Kamis, 23 September 2010

Rarekual to Jakarta


Singaraja 3 Agustus 2010, Comunity Rarekual Seni mampu meraih Juara 1 se-Bali dalam rangka Lomba Cipta Lagu yang dilaksanakan di RRI Singaraja.Rarekual mengeluarkan album perdana " Lovina Bali " yang diciptakan oleh Aris Rarekual.
Setelah dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Cipta Lagu se-Bali, Rarekual kembali mewakili Buleleng ke Jakarta dalam rangka Lomba Cipta Lagu tingkat nasional pada tanggal 8 Agustus 2010. Rarekual memperoleh Juara 2 dan Juara Terfavorit.
Pencipta Lagu " Lovina Bali " Aris Rarekual berkata, "perjuangan kami bukan sampai disini, kami ingin lebih berkreasi lagi dalam hal menciptakan lagu dan saya mohon dukungannya dalam pembuatan lagu berikutnya dan tak luput kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas berkat beliau saya dan teman - teman tidak bisa seperti ini. Saya cuman mau mengucapkan maju terus Rarekual jangan pantang menyerah....Bangkitlah dari keterpurukan.....Yen care di sinetrone Pembalasan Si Pitung."

Rarekual Juara Lawak se-Bali

Sabet Juara RBAA 2010
DENPASAR - Perhelatan lomba lawan bertajuk Radar Bali Art Award (RBAA) 2010 mencapai klimaks, Sabtu (6/3) malam lalu. Para finalis sukses mengocok perut penonton di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar.

Perhelatan yang diawali dengan babak penyisihan, Jumat (8/1) lalu itu akhirnya menahbiskan kelompok Rare Kual dari Sanggar Santhi Budaya, Buleleng sebagai grup terlucu dan menjadi juara RBAA 2010. Rare Kual berhasil mencuri hati tim juri yang terdiri dari Wayan Sugita, Made Taro dan Anom Ranuara setelah menampilkan garapan bertajuk Bali Bali Buli.

Sedangkan posisi runner up diraih oleh grup pelawak Bali, Menawa Shanti, Gianyar yang mengusung tema Kotak Katik. Disusul oleh Menclepech, Denpasar yang mengusung garapan Bolak Balik Belek.

Sementara itu, untuk harapan satu dan dua masing-masing diraih oleh grup pelawak Bali, Gita Ulangun, Gianyar dengan garapan Bah Bangun, dan Saja Pongah Juari, Gianyar yang membawakan tema Rwa Bhineda. Dan, seluruh pemenang berhak atas dana pembinaan dari Gubernur Bali, dan juga piala tetap dan piagam penghargaan Radar Bali Art Award 2010, apresiasi seni pelawak Bali.

"Saya sangat salut dan bangga dengan ajang apresiasi seni pelawak Bali, Radar Bali Art Award 2010 ini. Karena sangat positif terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali ke depan," kata Rektor ISI Denpasar, Prof. Wayan Rai S yang memilih menunda keberangkatannya ke Jakarta untuk memberikan apresiasi pada acara ini.

Menurutnya, dengan ajang apresiasi seni pelawak Bali ini nantinya mampu memotivasi munculnya seniman pelawak muda Bali yang siap bersaing di tengah arus budaya global dengan daya kreatif dan inovatif. Di samping itu, hendaknya ajang apresiasi seni pelawak Bali ini tidak hanya sampai di sini saja. Melainkan bisa bergulir secara reguler sebagai agenda tahunan.

Sementara itu, Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kadisbud Bali, IB Sedhawa mengatakan ajang apresiasi seni pelawak Bali, RBAA 2010 sebagai salah satu bentuk kegiatan dalam rangka memberikan unsur hiburan. Juga sebagai pelestarian dan menciptakan karya budaya kreatif inovatif bagi generasi muda Bali.

Sebab, kata dia, mampu menjadi ruang apresiasi bagi generasi muda Bali dalam menyalurkan bakat dan minatnya dalam bidang seni budaya. Terutamanya dalam dunia seni peran. Sehingga, diharapkan melalui ajang apresiasi seni pelawak Bali ini terlahir seniman pelawak Bali yang bermutu dan berkualitas serta unggul dalam bidangnya demi keberlanjutan pembangunan seni budaya Bali ke depan.

Menurutnya, sebagai seni pertunjukan pelawak Bali memang dituntut harus mampu tampil dengan daya inovasi dan kreativitas tinggi. Sehingga mampu menjadi hiburan menarik dan penuh dengan gelak tawa ceria. Tapi tetap dikemas dalam balutan etika dan estetika seni yang berbudi luhur. (ija)

Asal Mula Terbentuk Gamelan Gong Kebyar

Gamelan adalah sebuah orkestra Bali yang terdiri dari bermacam-macam instrumen seperti : gong, kempur, reyong, terompong, ceng-ceng, kendang, suling, gangsa dan rebab yang mempunyai laras selendro dan pelog.Dapat dipahami bahwa hidupnya seni karawitan Bali di tengah-tengah masyarakat telah luluh berefleksi dengan aktivitas kehidupan masyarakat sehari-hari dalam struktur masyarakat yang bervariasi baik dalam kegiatan keagamaan maupun adat/tradisi. Kenyataan ini nampak dengan jelas karena karawitan Bali muncul dalam nafasnya yang murni, memiliki identitas dan kekhasan yang masih didukung oleh sistem kehidupan masyarakat Bali.
Karawitan Bali menjadi suatu kebanggaan, mengingat banyaknya pengakuan dari berbagai negara di dunia yang menempatkan karawitan Bali dalam kategori yang baik. Pujian seperti ini tidak perlu diragukan lagi terbukti dengan adanya peminat-peminat seni dari berbagai negara datang ke Bali untuk mempelajari karawitan Bali, baik dari segi teori maupun praktek.Di Bali sendiri terdapat kurang lebih 26 jenis gamelan yang masing-masing memiliki kelengkapan bebarungan dengan fungsi yang berbeda dan jumlahnya semakin bertambah, salah satu diantaranya yaitu Gong Kebyar. Gong Kebyar belakangan ini masih terus menjadi suatu karya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, perorangan maupun kelompok. Sebagai suatu bentuk kesenian yang usianya relatif muda, gong kebyar berkembang sangat pesat dan merupakan suatu jenis karawitan Bali yang paling populer bahkan sampai keluar dari daerah Bali.
Di Bali sendiri hampir setiap desa memiliki gamelan gong kebyar, dan gong kebyar telah banyak mempengaruhi jenis-jenis kesenian Bali yang lain, tidak hanya dalam bentuk seni karawitan namun juga dalam bentuk seni tari yang dibawakan dalam bentuk sendratari.
Gong Kebyar adalah barungan gamelan Bali sebagai perkembangan terakhir dari Gong Gede, memakai laras pelog lima nada yang awal mulanya tidak mempergunakan instrumen terompong. Selanjutnya Gong Kebyar dapat diartikan suatu barungan gamelan gong yang didalam permainannya sangat mengutamakan kekompakan suara, dinamika, melodi dan tempo. Ketrampilan mengolah melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan permainan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik permainan yang cukup tinggi sehingga dapat membedakan style Gong Kebyar yang satu dengan yang lainnya.
Untuk mengungkapkan asal mula Gong Kebyar memang merupakan suatu tugas yang tidak begitu mudah. Sebelum munculnya Gong Kebyar di Bali, jenis-jenis gamelan yang telah ada hanyalah sebagian besar berupa gamelan gong gede, gong luwang, gong beri, gamelan pelegongan dan lain-lainnya. Keadaan ini berlangsung sampai terjadinya perang Puputan Badung tahun 1906. Bapak I Nyoman Rembang seorang tokoh Gong Kebyar asal Sesetan Denpasar mengatakan bahwa lagu-lagu kebyar pertama-tama diciptakan oleh I Gusti Nyoman Panji di Desa Bungkulan pada tahun 1914. Kemudian menyebar ke desa-desa lainnya di Bali utara dan lagu-lagu ini dicoba untuk ditarikan oleh Ngakan Kuta yang berdomisili di Desa Bungkulan.
Berdasarkan uraian diatas bahwa dapat disimpulkan pada tahun 1914 Gong Kebyar yang muncul penuh dengan pembaharuan namun tetap berpegang pada tradisi yang ada yaitu seperti gong gede. Beberapa pendapat seniman gong kebyar mengatakan bahwa Gong Kebyar merupakan perkembangan dari gong gede yang banyak dipengaruhi oleh pelegongan yakni dengan masuknya unsur “otek-otekan” dalam Gong Kebyar.
Jenis-jenis instrumen yang digunakan pada gamelan Gong Kebyar antara lain :
Kendang
Terompong
Ugal
Gangsa
Kantil
Kajar
Ceng-ceng
Calung
Jegogan
Gong