Sabet Juara RBAA 2010
DENPASAR - Perhelatan lomba lawan bertajuk Radar Bali Art Award (RBAA) 2010 mencapai klimaks, Sabtu (6/3) malam lalu. Para finalis sukses mengocok perut penonton di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar.
Perhelatan yang diawali dengan babak penyisihan, Jumat (8/1) lalu itu akhirnya menahbiskan kelompok Rare Kual dari Sanggar Santhi Budaya, Buleleng sebagai

grup terlucu dan menjadi juara RBAA 2010. Rare Kual berhasil mencuri hati tim juri yang terdiri dari Wayan Sugita, Made Taro dan Anom Ranuara setelah menampilkan garapan bertajuk
Bali Bali Buli.
Sedangkan posisi runner up diraih oleh grup pelawak Bali, Menawa Shanti, Gianyar yang mengusung tema Kotak Katik. Disusul oleh Menclepech, Denpasar yang mengusung garapan Bolak Balik Belek.
Sementara itu, untuk harapan satu dan dua masing-masing diraih oleh grup pelawak Bali, Gita Ulangun, Gianyar dengan garapan Bah Bangun, dan Saja Pongah Juari, Gianyar yang membawakan tema Rwa Bhineda. Dan, seluruh pemenang berhak atas dana pembinaan dari Gubernur Bali, dan juga piala tetap dan piagam penghargaan Radar Bali Art Award 2010, apresiasi seni pelawak Bali.
"Saya sangat salut dan bangga dengan ajang apresiasi seni pelawak Bali, Radar Bali Art Award 2010 ini. Karena sangat positif terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali ke depan," kata Rektor ISI Denpasar, Prof. Wayan Rai S yang memilih menunda keberangkatannya ke Jakarta untuk memberikan apresiasi pada acara ini.
Menurutnya, dengan ajang apresiasi seni pelawak Bali ini nantinya mampu memotivasi munculnya seniman pelawak muda Bali yang siap bersaing di tengah arus budaya global dengan daya kreatif dan inovatif. Di samping itu, hendaknya ajang apresiasi seni pelawak Bali i

ni tidak hanya sampai di sini saja. Melainkan bisa bergulir secara reguler sebagai agenda tahunan.
Sementara itu, Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kadisbud Bali, IB Sedhawa mengatakan ajang apresiasi seni pelawak Bali, RBAA 2010 sebagai salah satu bentuk kegiatan dalam rangka memberikan unsur hiburan. Juga sebagai pelestarian dan menciptakan karya budaya kreatif inovatif bagi generasi muda Bali.
Sebab, kata dia, mampu menjadi ruang apresiasi bagi generasi muda Bali dalam menyalurkan bakat dan minatnya dalam bidang seni budaya. Terutamanya dalam dunia seni peran. Sehingga, diharapkan melalui ajang apresiasi seni pelawak Bali ini terlahir seniman pelawak Bali yang bermutu dan berkualitas serta unggul dalam bidangnya demi keberlanjutan pembangunan seni budaya Bali ke depan.
Menurutnya, sebagai seni pertunjukan pelawak Bali memang dituntut harus mampu tampil dengan daya inovasi dan kreativitas tinggi. Sehingga mampu menjadi hiburan menarik dan penuh dengan gelak tawa ceria. Tapi tetap dikemas dalam balutan etika dan estetika seni yang berbudi luhur. (ija)